Sejarah Pulau Tidung, Pulau Sepi yang Kini Menjadi Salah Satu Bagian Ikon Wisata Bahari

Pulau Tidung sebenarnya merupakan dua buah pulau kecil yang terdiri dari Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung kecil, sesuai namanya Pulau Tidung Besar lebih luas dari pada Pulau Tidung Kecil. Kedua pulau ini memiliki fungsi yang berbeda – beda, Pulau Tidung besar untuk tempat tinggal penduduk dan melakukan kegiatan sehari – hari sedangkan, Pulau Tidung kecil adalah kawasan konservasi.Terletak di wilayah administrasi Kepulauan Seribu Selatan, Pulau Tidung bisa ditempuh dari dermaga ancol atau muara angke, Jakarta Utara, dengan waktu tempuh kurang lebih sekitar 3 jam. Bagi yang tidak tahan berlama – lama di laut, maka pilihlah rute dengan menggunakan speedboat dari marina ancol dan bagi mereka yang ingin sambil menikmati suasana laut yang biru dan tenang bisa menggunakan kapal dari muara angke. Tentu saja ada perbedaan biaya di antara keduanya namun, perbedaan itu tidaklah begitu besar.

Jika dulu sejarah Pulau Tidung hanya dihuni sedikit penduduk saja dan masih terhitung sepi, lalu sebagian besar mata pencaharian penduduknya hanya nelayan bubu dan pancing, kini dengan semakin berkembangnya sektor pariwisata di wilayah Kepulauan Seribu, Pulau Tidung menjadi semakin ramai dan para penduduknya pun memiliki pekerjaan yang kian beragam. Mulai dari pedagang, agen tour, jasa guide, penyedia penginapan dan berbagai hal lainnya yang berhubungan dengan pariwisata.

 

Dahulu Pulau Tidung masih masih sangat sepi dan belum maju seperti sekarang, wilayah pulau masih masuk kedalam kecamatan Kepulauan Seribu karena waktu itu Kepulauan Seribu belum dijadikan sebagai Kabupaten. Waktu itu, wilayah Kepulauan Seribu masih masuk kedalam daerah administrasi Jakarta Utara.

Barulah pada tahun 2002, Kepualauan Seribu berdiri sendiri menjadi sebuah kabupaten dengan dibagi menjadi 2 kecamatan yaitu Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan dan Kecamatan Kepualauan Seribu Utara.

Dibawah wilayah Administrasi Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Pulau Tidung berubah menjadi sebuah kelurahan yang dibagi menjadi 4 RW dan 29 RT, dengan perkiraan ada 1142 KK dan 4354 jiwa yang mendiami Pulau Tidung saat ini.

Meskipun dahulu menurut sejarah Pulau Tidung hanya memiliki sedikit penduduk saja jika dibandingkan dengan Pulau lain yang ada di Indonesia, tapi penduduk Pulau Tidung terdiri dari berbagai macam latar belakang, seperti suku Mandar, Bugis, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sumatera, Banten, Sumbawa dan Jakarta. Banyaknya penduduk yang ada di Pulau Tidung kabarnya juga karena terjadinya letusan gunung krakatau pada tahun 1883.

Tolak balik kemajuan sejarah Pulau Tidung hingga bisa menjadi salah satu bagian ikon wisata bahari yang ada di Kepulauan Seribu dan Indonesia terjadi mulai tahun 2009 dengan dimulai oleh wisatawan lokal sekitar Jakarta.Para penduduk wilayah Ibu Kota Jakarta dan sekitarnya seperti Tanggerang, Bogor, Banten dan Bandung mulai mendatangi Pulau Tidung dan perlahan – lahan hingga tahun 2012, mulailah perkembangan pesat sejarah Pulau Tidung sebagai salah satu ikon wisata bahari di mulai.

Pada Pulau Tidung, ada beberapa tempat yang menjadi suatu keharusan ketika berkunjung disana, salah satunya adalah tempat terkenal yang menjadi bagian sejarah Pulau Tidung yaitu jembatan cinta yang sudah jadi ikon Pulau Tidung bahkan sebelum Pulau Tidung terkenal seperti sekarang.

Jembatan Cinta sendiri pada mulanya di bangun untuk menghubungkan antara Pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil pada tahun 2005 lalu. Kemudian, perlahan – lahan dengan seiring berdatangannya para wisatawan, mulailah berkembang salah satu mitos legendari jembatan cinta yaitu, apabila sepasang kekasih bergandengan tangan disepanjang jembatan, maka cinta mereka akan abadi, sedangkan bagi yang masih single, melompat sebanyak 7 kali dari atas jembatan dipercaya akan membawa mereka pada jodoh. Tentu saja yang namanya mitos tidak bisa dipercaya begitu saja ya, tapi selain mitos tersebut memang berbagai panorama cantik bisa dilihat dari jembatan cinta seperti sunset yang membuat rasa cinta kita terhadap kebesaran Tuhan semakin besar.

Pantai Saung Perawan, Pantai Cemara Kasih, dan Tanjung Barat, merupakan pantai berpasir putih kebanggan Pulau Tidung. Ketiganya menawarkan pemandangan sunset dan sunrise yang luar biasa dan membuat para wisatawan yang sudah pernah ke Pulau Tidung akan terus – menerus ingin kembali guna menikmati keindahannya. Pantai – pantai ini juga memiliki arus yang tenang dan ombak yang tidak terlalu besar sehingga, snorkeling di sekitar Pulau Tidung akan sangat aman dan bahkan pemula sekalipun bisa turut merasakan keindahan Pulau Tidung dengan sepenuhnya.

Saat ini, Pulau Tidung terus berbenah agar kepercayaan para wisatawan yang membuat Pulau Tidung menjadi salah satu bagian ikon wisata bahari terus terjaga selain itu, menjaga keindahan alam dengan terus melakukan perbaikan tanpa merusak alam juga terus dilakukan karena alamlah yang menjadi semua akarnya dan membuat Pulau Tidung bisa maju dan terkenal seperti saat ini.

Post a Comment

Your email is kept private. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.